Puteri seorang gadis yang sangat baik hati, cerdas, energik, mandiri, dan cantik. Dia paling tidak suka merepotkan orang lain, termasuk orang tuanya, walaupun keluarganya termasuk keluarga yang berkecukupan, puteri tidak pernah menjadi anak manja yang selalu ingin dituruti semua keinginannya oleh orang tuanya. Dia selalu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yg ingin dimilikinya, tanpa perlu merepotkan orang lain.
Pada suatu ketika dipagi hari puteri berkunjung ke rumah tetangganya yang sederhana untuk bersilaturahim, dari dulu puteri sangat kagum dengan keluarga tersebut. Walaupun hidup sederhana dalam keterbatasan ekonomi, namun keluarga itu terlihat sangat bahagia dan penuh kehangatan. Saat berkunjung ke rumah tetangganya itu, Puteri bisa merasakan keramahan sambutan dari seisi rumah, terutama dari Teh Umi, ibu pemilik rumah yg selalu tersenyum pada saat bicara, sejuk dan penuh keceriaan.
" Assalamu 'alaikum teh,,, apa kabar teh,,,?" Sapa Puteri mengawali pembicaraan dipagi hari diteras rumah Teh Umi.
"Wa' alaikumsalam,,, alhamdulillah baek,,, mbak puteri sendiri gimana..? lama gak maen kesini,,, makin cantik aja... " Sambut Teh Umi dengan wajah sumringah menyambut kedatangan puteri.
" hahaha,,, Teh umi bisa aja,,,"
" eh, si Amir sama yuli kemana teh,,,? koq gak keliatan,,, lagi pada maen ya...?" Tanya Puteri menanyakan keberadaan anak-anak teh Umi yg masih kecil2.
"nggak Put,,, tuh ada di dalem lagi pada nonton tv, nunggu nasi mateng buat sarapan,,,".
" mba puteri udah sarapan...? Sarapan bareng yuk,,, teteh mau goreng tempe mendoan" Ajak teh Umi berharap Puteri mau sarapan bersama keluarganya.
Puteri cuma tersenyum, bingung menjawabnya hatinya menolak, karena tidak mau merepotkan keluarga teh Umi. Walaupun sebenarnya dia juga sedang lapar.
"Sekali-kali makan disini napa,,, gantian,,, kan mba puteri sering bawain makanan buat kami" Bujuk Teh umi, melihat puteri yg kebingungan menjawab.
"Aduh,,, teh,,, makasih banget, tapi aku udah sarapan,,, tadi sebelum datang kesini" Jawab puteri dengan tetap tersenyum manis menutupi Kebohongannya.
"oh,,, yaudah klo begitu,,, emang tadi mba puteri sarapan apa?" tanya teh umi dengan tetap sumringah menutupi kekecewaanya.
"tadi sarapan bubur ayam teh,,, di pertigaan sebelah warung kelontong bang sarip" Kembali puteri berbohong menutupi kebohongan sebelumnya. Sebenarnya puteri tidak enak hati menolak ajakan teh Umi sarapan, namun dia juga tidak mau merepotkan keluarga teh Umi, sehingga dia memutuskan utk berbohong.
"Teh,, puteri masuk kedalem ya, mau nemenin amir dan yuli nonton tv". Usul puteri mengalihkan pembicaraan.
"masuk aja put,, kebetulan teteh juga mau keluar beli tepung buat goreng mendoan ke warung bang sarip"
"warung bang sarip tadi udah buka kan put...?"
Kembali Puteri kebingungan menjawabnya, karena dia gak tau warung kelontong bang sarip sudah buka atau belum.
" Udah buka teh,,," jawab puteri ragu, berspekulasi dan kembali berbohong.
Dan teh Umi pun pergi meninggalkan mereka bertiga yg sedang asyik bercengkrama didepan tv, teh Umi pergi naik sepeda karena jarak rumahnya dgn warung bang sarip lumayan jauh. Kemudian sesampainya dipertigaan di depan warung bang sarip teh umi pun kembali kecewa, karena warung kelontong bang sarip yg bersebelahan dgn tukang bubur ayam masih tutup. Teh Umi bingung dgn informasi yg telah disampaikan puteri kepadanya.
teh Umi pun memutuskan kembali pulang, dia masih berfikir positif kepada puteri. Namun baru bebrapa meter balik arah hendak berbelok dipertigaan, masih di dekat warung bang sarip, tiba-tiba,,,
"BRAAAKK..!!!" Sebuah sepeda motor menabrak sepeda teh Umi hingga ringsek, dan teh Umi pun tersungkur dijalan. Kepalanya terbentur aspal, wajahnya berlumuran darah.
Selama satu minggu teh umi dirawat di ICU, keluarganya sangat kebingungan dan khawatir. Apalagi mengingat biaya yg harus dikeluarkan untuk peraawtan teh Umi. Amir dan yuli menangis tersedu-sedu setiap hari menangisi ibunya.
Namun apa daya, umur Alloh yg menentukan, setelah satu minggu lebih dirawat di ICU Akhirnya teh Umi meninggalkan dunia fana.
Innalillahi wainnalillahi rojiun...
Puteri yg baik hatipun sibuk membantu keluarga teh Umi, mulai dari biaya perawatan, pemakaman, hingga menghibur Amir dan yuli yg kehilangan ibunya. Dia sangat menyesali ketidakjujurannya, yg dia anggap baik namun berakibat fatal.
Hikmah dari cerita ini adalah, Sekali kita berbohong maka kita akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya, dan setiap ketidakjujuran selalu membawa penderitaan.
Mazz Eka, VMG 2
29/10/2011
Dikisahkan, ada seorang raja yang setiap pergi berburu selalu ditemani oleh seorang sahabatnya yang terkenal dengan ketakwaan dan wirainya. Tiap kali raja menemui sesuatu yang tidak mengenakkan, sahabatnya selalu berkata, “Semoga itu baik, insya Allah.” Kata-kata ini selalu diulang-ulanginya pada setiap kejadian yang secara dhahir adalah kejadian buruk.
Pada suatu hari saat sang raja berburu bersama sahabatnya ditemani oleh pengawalnya, jari raja terkena tombak dan terpotong. Darah pun mengucur. Si sahabat berkata, “Semoga itu baik, insya Allah.” Raja marah dan memerintahkan pengawalnya untuk memenjarakannya. Saat pengawal ditanya, “Apa yang dikatakannya saat kalian menutup pintu penjara?” Pengawal menjawab, “Ia hanya mengatakan, ‘Semoga ini baik, insya Allah.”
Suatu ketika saat raja pergi berburu tanpa ditemani oleh sahabatnya, ia tersesat di hutan. Sedangkan di hutan tersebut terdapat suku yang menyembah berhala dan tiap tahun mengorbankan orang kepada berhalanya tersebut. Raja pun ditangkap oleh suku tersebut. Namun, saat diperiksa didapati bahwa jari raja tidak lengkap. Mereka pun menolak mengorbankannya, sebab korban harus dalam kondisi yang sempurna. Raja lalu dilepas dan ia kembali ke istananya.
Akhirnya ia menyadari kebenaran ucapan sahabatnya. Sahabatnya pun dikeluarkan dari penjara. Raja bertanya, “Ketika engkau mengatakan, ‘Semoga itu baik, insya Allah.’ Saat jariku terpotong, aku menyadari bahwa kebaikan itu adalah aku tidak jadi disembelih untuk berhala karena fisikku tidak sempurna. Sekarang saat engkau dipenjara, apakah kebaikan itu?” Ia menjawab, “Andaikata saat itu saya bersamamu, maka mereka akan menyembelih saya sebagai penggantimu.”
oOo
Jika anda mendapat kejadian buruk ucapkan : "Semoga ini baik, insya Allah.”Semoga ALLOH SWT memberi kebaikan pada kehidupan Anda. Amiin :)
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetauhi”. (QS Al-Baqarah : 216). 
Read more..
Assalamu’alaikum wr wb....
Begitukah? Entah! Yang jelas, pantun klasik “Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kaki. Dari mana datangnya cinta – eh, mestinya cintah dong ya – dari mata turun ke hati”, menggambarkan betapa mata adalah gerbang ke istana cinta. Apa yang bisa ditangkap oleh mata? Ya rupa, masa aroma?
Selain berbagai perbedaan lain, perbedaan “kualitas” fisik antarmanusia, seringkali dianggap sebagai bentuk ketidakadilan yang kejam dalam kehidupan. Jika memang seseorang memiliki rupa dan tubuh yang, katakanlah kurang simetris, layout atau perjawahannya ngga rapi, pokoknya sama sekali tak nyaman dipandang, apalagi untuk jangka panjang, apa hendak dikata? Berusaha memoles dan merias habis-habisan, justru akan membuat makhluk itu kelihatan makin menyedihkan.
Orang yang sangat miskin, mungkin saja menjadi kaya bila dia gigih sekaligus “bernasib” baik. Tapi orang yang sangat jelek… Kegigihan dan nasib baik apa gerangan yang akan mengubahnya menjadi cakep? Operasi plastik? Nah, itu dia masalahnya. Bila dia berubah menjadi cakep dengan proses yang “maksa” itu, dia bukan dirinya lagi …
Kemiskinan, status sosial, derazat pendidikan, dan berbagai “kekurangan” lain, jelas akan mengganggu kepercayaan diri seseorang. Namun “kesadaran” akan buruknya kualitas “perwajahan dan pertubuhannya”, bukan lagi mengganggu, tetapi menggerogoti!
Wanita sering mengeluhkan, betapa pria adalah makhluk yang berorientasi kepada fisik. Tidak aneh sebenarnya, mengingat Sang Desainer tampaknya memang melekatkan jauh lebih banyak keindahan pada tubuh wanita daripada pria. (Oiya, kira-kira keindahan di tubuh pria itu apa ya?)
Tapi sebenarnya, tidak saja wanita yang perlu merasa risau soal fisiknya, ketika berhubungan dengan pria. Kaum pria pun gitu kok. Cuma ya, di-PD-PD-in aja.
Jadi inget dulu di milis, dapat posting tentang perbedaan cowok ganteng dengan cowok jelek.
Kalo cowok ganteng pendiem, cewek-cewek bilang: “Wow, cool banget…”
Kalo cowok jelek pendiem, cewek-cewek bilang: “Ih kuper…”
Kalo cowok ganteng bergaya gaul, cewek-cewek bilang: “fungky bo…”
Kalo cowok jelek bergaya gaul, cewek-cewek bilang : “ih norak…”
Kalo cowok ganteng jomblo, cewek-cewek bilang: “pasti dia perfeksionis”
Kalo cowok jelek jomblo, cewek-cewek bilang: “sudah jelas… Kagak laku!!!”
Kalo cowok ganteng jadi gay, cewek-cewek bilang: “tuh kan, cowok aja pada suka”
Kalo cowok jelek jadi gay,cewek-cewek bilang: “karena cewek-cewek udah nggak berminat”
Kalo cowok ganteng ganti-ganti cewek, cewek-cewek bilang: “wajar kan direbutin cewek-cewek cantik”
Kalo cowok jelek ganti-ganti cewek, cewek-cewek bilang: “pasti bolak-balik diputusin”
Kalo cowok ganteng dapet cewek cantik, cewek-cewek bilang: “klop… Serasi banget”
Kalo cowok jelek dapet cewek cantik, cewek-cewek bilang: “pasti maen dukun… Atau ceweknya matre”
Kalo cowok ganteng ditolak cewek, cewek-cewek bilang: “jangan sedih kan masih ada aku”
Kalo cowok jelek ditolak cewek, cewek-cewek bilang: (diam, tapi telunjuknya meliuk-liuk dari atas ke bawah).
Kalo cowok ganteng diputusin cewek, cewek-cewek bilang: “duh, kok bego banget tu cewek?”
Kalo cowok jelek diputusin cewek, cewek-cewek bilang: “akhirnya terbuka juga mata hati cewek itu”
Kalo cowok ganteng digaet tante-tante girang, cewek-cewek bilang: “pinter juga tuh tante”
Kalo cowok jelek digaet tante-tante girang, cewek-cewek bilang: “pasti karena cucakrowonya”
Kalo cowok ganteng ngaku pacar Asmirandah, cewek-cewek bilang: “percaya… Masuk akal”
Kalo cowok jelek ngaku pacar Asmirandah, cewek-cewek bilang: “yee, tolong beli kaca yg gede ye”
Kalo cowok ganteng suka merawat wajah, cewek-cewek bilang: “itu namanya memelihara aset”
Kalo cowok jelek suka merawat wajah, cewek-cewek bilang: “buang-buang waktu aja!!!”
Sedih ya membacanya… Konon lagi mengalaminya. *Pengalaman pribadi?* Tapi begitulah.
Padahal andai cewek-cewek itu tau, atau siapapun yang cenderung menjadikan kecakepan sebagai kriteria terpenting, atau satu-satunya kriteria, dia bisa saja terjebak seperti membeli hp dengan casing kinclong, tapi daleman ancur!
Dan internet datang…
Banyak orang kemudian menjalin konektivitas, ngutip dari blog-nya Yati, yang disebut sebagai “Relasi Kata tanpa Rupa”. Chatting, email, berbagai situs jejaring sosial, juga kemudian blogging, konon lagi bila berlanjut ke saling sms dan telepon, membuat antarinsan menjadi begitu “dekat” walau mereka belum sempat bertatap muka.
Dalam hubungan di jagat maya itu, rupa dan unsur fisik secara keseluruhan, menjadi sekunder sifatnya.Jiwa, pemikiran, hal-hal yang tidak kasat mata, lebih mendapat ruang.
Memang banyak orang mencela jagat maya sebagai wahana beresiko tinggi untuk memulai sebuah hubungan yang serius. “Anda bisa tertipu!” kata mereka. Oiya? Trus ada jaminan manusia nyata yang Anda peluk-kecup setiap hari itu bukan seorang psikopat yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk memutilasimu? Tuh, si Ryan ngga memungut korbannya dari jagat maya, tapi dari pertemanan nyata.
Barangkali, teknologi internet, yang memungkinkan relasi kata tanpa rupa itu, adalah jawban Tuhan atas keluh makhluk-makhluk-Nya, yang karena satu dan lain hal, memiliki tubuh yang kurang argonomis, dan wajah asimetris. Apa coba?
Relasi kata tanpa rupa tadi, memungkinkan jiwa-jiwa terekat erat lebih dulu, sampai kepada suatu titik, ketika mereka sudah siap walau akan menemukan jiwa yang mengikat jiwanya itu, ternyata bersemayam di dalam tubuh yang jauh dari sempurna.
Pada akhirnya, tidak saja fisik bukan segalanya, tapi bahkan tak segalanya harus bermula dari sana.
Kata cinta ternyata mengalami dualisme tergantung kepada nuansa hati ketika kata cinta itu terucap. Mari kita simak beberapa kalimat yang berkaitan dengan kata cinta di bawah ini.
(Ruang lingkup bahasan cintanya dibatasi antar manusia -sepasang kekasih-red.-, bukan bahasan cinta yang hakiki pada Sang Khaliq).
Ketika orang sedang jatuh cinta, maka kalimat yang bertebaran biasanya seperti ini :
“Cinta itu sejuta rasanya”, “Cinta membuat hidup lebih berwarna”, “Cintalah yang membuatku tetap bertahan”, “Ketika cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat”, dan sejuta kata lainnya yang bisa dirangkai dan diucapkan berkaitan dengan indahnya cinta.
Ketika orang sengsara karena cinta maka bisa saja kalimatnya seperti ini:
“Cinta itu telah membunuhku”, “Cinta itu ternyata menyakitkan”, “Cinta itu meredupkan semangat hidupku”, dan sejenisnya.
Tanpa bermaksud mendefinisikan arti cinta (kalau mau tahu definisi cinta buka saja kamus bahasa Indonesia-red.), mungkin karena kata “Jatuh Cinta” itu sendiri punya makna ganda, maka orang mengalami dua rasa. Yang pertama, kejatuhan cinta yang membuat rasa berbunga-bunga seolah-olah dunia milik berdua, sementara yang lainnya ngontrak (duh…., banyak amat kontrakannya yah…). Yang kedua, orang yang jatuh karena cinta dan membuat hidupnya menjadi sengsara serta tak sedikit yang bunuh diri mengatas namakan cinta.
Mungkin harus dimunculkan ide baru untuk mengimbangi kata “Jatuh Cinta”, yaitu kata “Bangun Cinta”. Kata bangun cinta diharapkan orang akan merasakan kebangkitan (ghirah) ketika merasakan cinta dan tidak pernah patah hati (terjatuh) ketika cinta harus di akhiri.
Marilah kita bangun cinta dengan landasan ikhlas menerima segala kekurangan dan kelebihan dari pasangan kita. Mari saling berbagi dalam cinta, bukan saling menuntut. Tapi, hati-hati…… cinta tak selamanya memiliki.
Wassalamu’alaikum wr wb smg bermanfaat
Read more..
Ukhti....
Jikalau tiba saatnya bertemu...
bersabarlah dikau dengan kekuranganku....
bersabarlah dikau dengan apa yang tampak sekilas....
sesungguhnya aku ini hanyalah seseorang anak adam yang biasa-biasa saja....
yang biasa dipandang sebelah mata....
Ukhti....
Jika Allah memang memilihku tuk mendampingimu....
Kumohon....
Hendaklah dikau selalu mengingatkan diriku ini yang lemah ini....
Yang mungkin menelantarkan hak-hakmu....
Yang mungkin lupa diri dan tak tau diri....
Yang mungkin lupa akan kewajibanku ini....
Ukhti....Terimalah salamku ini....
Jagalah dirimu dengan sebaik-baiknya ukhti....
Berimanlah pada Allah swt....
dan bertakwalah pada Allah....
Patuhilah Allah dan Rasulnya....
Jangan terbawa oleh arus musuh-musuh Islam ukhti....
Ingatlah.....
Sesungguhnya Allah swt. bersama orang-orang yang sabar....
Jikalau bukan takdir kita untuk bertemu....
Doaku semoga Allah mempertemukanmu dengan Ikhwan yangl ebih baik dariku....
Yang akan membahagiakanmu di dunia dan membimbingmu menuju kebahagiaan akhirat....
(taken from : renungan dan kisah inspiratif)
Read more..
Bismillah…
Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah,
pertanyaan-pertanyaan “kreatif” tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang
pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?
Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.
Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.
Di sini orang berlomba mengajukan “standardisasi” calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.
Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan,“Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?” Memang, ada juga jawaban lain, “Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja.” Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.
Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah.
Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.
Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.
Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah,bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?
Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya.
Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh,jika kita tidak pernah siap untuk itu? “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya.” (QS Al Baqarah, 286). Di balik fenomena “telat nikah” sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT.
Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati
seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.
Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?
Wallahu a’lam bisshawaab.
Bismillah…
Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah,
pertanyaan-pertanyaan “kreatif” tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang
pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?
Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.
Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.
Di sini orang berlomba mengajukan “standardisasi” calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.
Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan,“Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?” Memang, ada juga jawaban lain, “Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja.” Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.
Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah.
Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.
Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.
Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah,bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?
Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya.
Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh,jika kita tidak pernah siap untuk itu? “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya.” (QS Al Baqarah, 286). Di balik fenomena “telat nikah” sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT.
Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati
seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.
Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?
Wallahu a’lam bisshawaab.
Read more..
